Sebatang Kara, Janda ini Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

AN,Medan-Kisah miris warga duafa Medan Deliserdang Sumatera Utara kali ini, diterima oleh awak media, Rabu (21/7/2021), dari relawan perkumpulan Wartawan Sinaga Sedunia (WSS) yang turun kelokasi pada saat itu. Adapun lokasi sebagai tempat tinggal warga duafa ini terletak di kawasan jalan Bendungan I Kampung Bobi Dusun VIII Desa Marindal II Kecamatan Patumbak Kabupaten Deliserdang, Sumut.

 

Lince Boru Sihombing yang diketahui merupakan istri dari seorang pria bermarga Sinaga ini, sudah 17 tahun lamanya menjanda setelah ditinggal pergi suaminya untuk selama-lamanya. Suaminya tersebut meninggal dunia pada tahun 2004 yang silam. Ibu Lince di usia nya yang kian ujur berumur 64 tahun ini juga diketahui hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ibu janda 4 (empat) orang anak ini tinggal seorang diri di rumah tepas beratapkan rumbia busuk yang sudah banyak bocornya. Bila hujan turun yang disertai angin kencang, dalam rumah tersebut terdapat penuh dengan genangan air beserta goncangan dinding dan atap rumah yang kian mengancam keselamatan jiwa nya, yang mengakibatkan ibu janda miskin ini susah tidur.

 

Pantauan dari team di lapangan, yang tergabung dalam perkumpulan Wartawan Sinaga Sedunia yang saat itu turun langsung kelokasi pada hari Minggu (18/7/2021) sore kemarin, begitu mendengar kabar miris ini mengatakan bahwa “kondisi rumah maupun fisik ibu Lince Boru Sihombing ini pun sudah tidak sempurna lagi, dimana diusianya yang sudah ujur tua ini tidak punya daya lagi untuk bekerja keras. Jangankan untuk merenovasi rumah/gubuk deritanya ini, mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-harinya saja bisa didapat ibu Lince ini sudah lumayan. Konon lagi untuk merenovasi rumahnya sendiri ?? Gak bakalan bisa, terkecuali kita lah yang berfikir supaya kiranya kita bisa membuka hati dan pikiran kita antar sesama manusia untuk menolong ibu ini agar terbantukan,” cetus Mario Oktavianus Sinaga selaku Ketua Umum Wartawan Sinaga Sedunia yang saat itu ikut serta turun kelokasi dalam meninjau keadaan ibu janda miskin ini.

 

Menurut keterangan yang diperoleh, dalam kondisi demikian, anak-anaknya bukannya membantu dan menolong serta merawat ibu ini dengan baik, justru malah meninggalkan ibu janda miskin ini begitu saja dan kabarnya sudah tidak memperdulikan lagi orang tuanya yang kian ujur sudah tua ini.

 

Untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya sehari-hari, ibu tua ini harus bekerja upah-upahan di ladang orang. Meskipun demikian terkadang tidak sesuai harapan.

 

Jika dipanggil orang untuk upahan di ladang, disamping untuk belanja kebutuhan hidup, ibu Lince juga berharap bisa membayar hutang guna untuk menebus surat rumahnya yang telah digadaikan anak lelaki satu-satunya itu kepada rentenir pada 15 tahun yang silam. Tapi jangankan akan membayar hutang beserta bunganya, untuk makan dan belanja sehari-harinya saja susah. Tiap hari ibu tua ini selalu menangis, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan rentenir tersebut. Sedangkan anak maupun saudara famili nya tidak ada yang mau peduli.

 

Ibu tua ini sering menangis dalam berfikir, berharap bisa menebus surat rumahnya tersebut agar dapat memenuhi persyaratan dalam Pembedahan Rumah dari pemerintah setempat. Berhubung rumah/gubuk deritanya tersebut kian hari semakin membusuk yang dikarenakan usia dinding atap gubuknya tersebut sudah tua/rapuh. Namun harapan itu tak kunjung dapat terealisasi. Kadang matanya yang sakit akibat sering menangis membuat dirinya tidak bisa bekerja maksimal di ladang orang. Dirinya yang juga sering merasakan sakit diperutnya itu akibat pola makan yang tidak teratur, terkadang makan terkadang tidak, membuat fisik ibu janda miskin ini semakin menurun alias kurus drastis. Kalau tidak ada uang sama sekali dan beras juga habis, ibu Lince ini konon katanya tidak makan.

 

Melihat keprihatinan terhadap seorang janda miskin ini, dua orang wanita paruh baya yang bernama Bunga Limbong Boru Sinaga bersama rekannya Damarus Boru Perangin-nangin yang diketahui merupakan tetangganya ibu Lince, langsung ditemui oleh tim Wartawan Sinaga Sedunia untuk dimintai keterangan terkait kesusahan yang telah dialami ibu Lince ini. Alhasil mereka mengatakan bahwa benar adanya sosok ibu tua yang bernama Lince Boru Sihombing ini betul-betul mengalami kesusahan dan saat ini sangat membutuhkan pertolongan.

 

Disamping itu mereka yang merupakan tetangganya selama ini juga turut serta menawarkan bantuannya agar ibu Lince jangan segan-segan untuk datang kerumah mereka bilamana ibu Lince ini merasa kelaparan. Hal itu dilakukan mereka sebagai bentuk rasa perikemanusiaan. Bahkan kedua wanita paruh baya ini juga telah diketahui mengajak warga sekitar untuk bergotong royong dalam memperbaiki rumah/gubuk derita ibu Lince ini dengan seadanya sebagai bentuk swadaya masyarakat setempat meskipun belom sempuna.

 

“Luar biasa kekompakan masyarakat semesta dalam menanggapi hal kejadian seperti ini meskipun rumah itu sampai sekarang masih tampak dalam kategori belom layak huni. Setidaknya warga sekitar sudah mau berbuat dan mau peduli serta berupaya seadanya dibandingkan tidak mau peduli sama sekali,” kata Mario menyampaikan kejelasannya dengan penuh rasa haru.

 

Sehubungan dengan itu, guna menindaklanjuti program gotong royong tali asih bedah rumah tersebut, tampak relawan dari pengurus pusat WSS lainnya turut serta angkat bicara. Yakni dengan mengatakan bahwa “Realita yang mengenaskan ini ternyata benar-benar ada di negeri kita yang kaya ini. Merasa berdosa rasanya jika kondisi warga duafa ini tidak segera kita atasi bersama,” tutur Ridwan Naibaho yang ditunjuk selaku ketua panitia Relawan dari perkumpulan Wartawan Sinaga Sedunia dalam ruang lingkup bere ni Sinaga kepada awak media.

 

Selain itu, Simon Sinaga yang ditunjuk sebagai bendahara panitia relawan dalam program kegiatan sosial ini mengatakan “melalui media ini dihimbau dan diajak kepada para dermawan yang ingin ikut berkontribusi dalam Gerakan Sosial Tali Asih yang berazaskan Gotong Royong Kemanusiaan untuk Bedah Rumah Ibu Lince Boru Sihombing yang tidak layak huni, guna membantu orang tua yang kurang mampu tersebut, mari salurkan bantuan infaknya melalui rekening bendahara panitia di Bank Mandiri, dengan Nomor Rekening 1050004054254 atas nama Simon Sinaga,” ungkapnya.

 

Semoga berita ini juga sampai ke seluruh lapisan masyarakat, baik TNI-POLRI, Pemko, Pemkab, Pemprovsu, cq Dinas Sosial, Dinas Perumahan dan Pemukiman, serta Baznas dan para Wakil Rakyat anggota DPRD yang terhormat beserta para dermawan lainnya untuk dapat membantu donasi ini dalam rangka mensukseskan program tali asih pembedahan rumah ibu Lince yang tidak layak huni tersebut, tambahnya.

 

Sementara itu secara terpisah, tampak Ir Albert Sinaga (Gorgamas) yang merupakan salah satu pengurus Infokom PPTSB Toga Sinaga mengatakan, bahwa dirinya siap mendukung penuh kegiatan sosial ini untuk kemajuan bersama.

 

“Kegiatan sosial ini merupakan program yang mulia untuk membantu Keluarga Toga Sinaga/Boruna yang miskin apalagi bedah rumah yang tidak layak huni. Salut untuk para Wartawan keluarga pomparan Toga Sinaga/Boruna yang mau bergotong royong melalui perkumpulan Wartawan Sinaga Sedunia dalam menggalakkan kegiatan sosial ini. Saya akan mendukung dan berupaya untuk membantu panitia semaksimal mungkin dalam kegiatan ini, dengan mencari para dermawan lainnya guna membantu bedah rumah tersebut agar dapat terealisasi dengan baik. Mari kita bergotong royong seikhlas hati,” pungkasnya. (Rio-WSS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advokasinasional.com

FREE
VIEW