Aku Hanya Lahir di Indonesia, Tapi Ada Perasaan dimana Aku Merasa Berbeda

AN, Jakarta-Sukses dengan proyek duetnya bersama Chris Brown dalam lagu Overdose, Agnez Mo akhirnya kembali berkolaborasi dengan rapper kondang asal Amerika. Bulan September lalu, ia merilis single terbarunya yang bertajuk Diamonds, proyek kolaborasinya bersama French Montana.

Semakin populer berkat karier internasionalnya, Agnez Mo pun disibukkan dengan berbagai jadwal wawancara dengan media asing. Yang terbaru, ia diundang ke studio BUILD Series untuk menjalani interview eksklusif bersama Kevan Kenney.

COMMERCIAL BREAK
CLICK TO EXPOSE

Menjawab berbagai pertanyaan seputar kehidupannya sebagai artis, perjalanan karier, hingga fans dan haters, Agnez berkali-kali menyebutkan Indonesia dalam wawancara tersebut. Ia bahkan berusaha memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia pada Kevan yang sempat bertanya tentang hal tersebut.

Ungkap Keberagaman

Budaya Indonesia
Ungkap Keberagaman Budaya Indonesia
YouTube.com/BUILD Series

“Iya memang sangat menarik, karena Indonesia punya lebih dari 18 ribu kepulauan. Dan di setiap pulau, kami punya suara yang berbeda, kami juga punya baju tradisional yang berbeda-beda, seperti perkusi, musik, secara umum budaya kami sangat beragam,” tutur Agnez Mo.

Lebih lanjut, Agnez mengaku jika sejak kecil ia sudah menyanyi di gereja. Ia perlahan menjelaskan jika musik tradisional dan rutinitasnya menyanyi di gereja adalah bagian dari dirinya.

Tidak Berdarah Indonesia

Kevan Kenney yang sebelumnya mendengar banyak info akhirnya bertanya soal keyakinan Agnez yang adalah seorang nasrani. Karena Indonesia adalah negara yang mayoritasnya adalah muslim, ia pun penasaran bagaimana Agnez menjalani harinya sebagai orang yang berbeda atau bisa disebut dengan ‘kaum minoritas’.

Agnez pun menjawab, “Ya, aku sebenarnya tidak punya darah Indonesia sama sekali. Aku keturunan Jerman, Jepang, China, aku hanya lahir di Indonesia. Dan aku juga seorang Kristen, sementara di Indonesia mayoritasnya adalah muslim.”

“Aku nggak mau bilang kalau aku bukan bagian dari Indonesia, karena aku merasa orang-orang bisa menerimaku dengan baik, tapi memang ada perasaan di mana aku merasa berbeda dari orang-orang kebanyakan. Hal itu mengajarkanku untuk menerima kritik, perbedaan, dan sisi unik dalam diriku,” imbuhnya.(SNI) 

Kapan lagi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Advokasinasional.com

FREE
VIEW